Kamis, 13 Januari 2011

mengelola keuangan keluarga

Ternyata rumit juga mengelola keuangan keluarga ya..
Ada yang cuman penghasilan dari suami, Ada juga yang dari suami dan istri, ada juga cuman dari istri karena suami sedang nganggur (moga2 aja gak kejadian deh)..
Ada juga ketimpangan penghasilan si istri lebih besar dari suami...

Memang semua itu bisa jadi persoalan apabila tidak disikapi dengan dewasa dan kepala dingin..
(bukan kelapa muda dingin loh)...

iseng2 buat ngisi blog ini saya surfing pagi ini ke ayahbunda-online.com ternyata ada artikel yang membahas mengenai keuangan keluarga judulnya kalo gak salah "Kiat Kompak Mengelola Uang".

Disitu dijelaskan bahwa uang adalah masalah sensitif bagi suatu keluarga.. ada 8 kiat yang bisa dikutip dari sana agar hal itu tidak jadi masalah yaitu :

- Mencoba saling terbuka
Cobalah untuk terbuka dalam membicarakan keuangan dengan pasangan. Bicarakan bersama apa yang menjadi kecemasan masing-masing sehubungan dengan uang. Cobalah untuk tidak membuat penilaian sepihak sebelumnya, dan dengarkanlah apa yang diutarakan pasangan dengan seksama.

Dalam kesempatan ini Anda berdua juga dapat menyusun anggaran rumah tangga. Seperti juga, anggaran negara, seharusnya di sinilah Anda secara transparan bernegosiasi dan berkompromi untuk melakukan segala rencana yang ada hubungannya dengan uang.

- Menghargai privacy masing-masing
Walaupun pembicaraan mengenai uang sebaiknya dilakukan secara terbuka, namun cobalah untuk tetap menghargai kebutuhan pasangan akan privacy . Hargai keinginan pasangan untuk menyimpan sejumlah uang untuk kebutuhan pribadi dan hobi, misalnya. Berilah kesempatan pada suami Anda untuk sesekali membeli Compact Disc atau cerutu favoritnya setiap bulan, asalkan jumlahnya ditentukan bersama tentunya. Anda juga tentunya masih ingin meneruskan arisan di mall terheboh di kota Anda beserta teman-teman bukan? Jangan ragu-ragu menyampaikan keinginan ini pada suami Anda..

Sebaiknya masing-masing memiliki sejumlah simpanan yang dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi tanpa perlu melapor pada pasangannya. Tentu saja dalam penerapannya dibutuhkan kebesaran hati serta kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan.

- Menentukan tujuan bersama
Yang tidak kalah penting dalam percakapan mengenai uang adalah apa prioritas utama yang akan dicapai dalam keluarga. Misalnya, jika keluarga memprioritaskan pendidikan anak, maka mulailah memperkirakan berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk biaya pendidikan sekian tahun ke depan, serta berapa uang yang harus mulai disisihkan sejak saat ini. Pemahaman ini memperjelas serta mempermudah pengaturan keuangan keluarga.

- Temukan arti uang bagi pasangan
Cobalah memahami pasangan dengan menemukan arti uang baginya. Uang dapat menjadi simbol kebutuhan dan harapan yang sering tak terungkap, namun potensial menimbulkan konflik. Psikiater Amerika, Ann Ruth Turkel, mengatakan bahwa untuk dapat memahami nilai uang bagi seseorang dapat dilihat dari latar belakang kehidupannya.

Cara seseorang memandang masalah uang sangat ditentukan oleh bagaimana orang tersebut dibesarkan. Semuanya itu berhubungan dengan budaya, kelas sosial serta ekonomi yang melatar belakangi kehidupan seseorang. Karenanya, cobalah menelusuri kembali latar belakang diri sendiri maupun pasangan. Dengan cara ini Andadan dia lebih bisa memahami diri sendiri maupun pasangan dalam memandang masalah-masalah yang berhubungan dengan uang.

- Merasakan apa yang dirasakan pasangan
Terkadang perlu juga sekali waktu pasangan bertukar peran. Misalnya, jika Anda yang biasa belanja kebutuhan rumah tangga, sekali-sekali biarkan pasangan Anda yang berbelanja. Siapa tahu ia benar-benar tidak tahu harga sekotak popok bayi sekali pakai, atau harga sekaleng susu, misalnya. Dengan cara ini ia makin memahami bahwa harga-harga barang kebutuhan pokok semakin hari semakin tinggi, selain repotnya cari parkir di luar pasar swalayan atau hypermarket. .

- Adil dalam berbagi
Bila Anda dan pasangan sama-sama bekerja, buatlah pembagian pembayaran kebutuhan rumah tangga secara adil. Misalnya, Anda membayar uang sekolah anak, gaji pembantu serta membayar tagihan telepon. Sedangkan pasangan Anda membayar cicilan rumah, belanja bulanan dan rekening listrik.

Jangan bebankan pasangan pada hutang atau kewajiban untuk membiayai keluarga Anda, kecuali bila pasangan bersedia membantu. Meski kepentingan keluarga menjadi prioritas utama, pikirkan pula kebutuhan pribadi pasangan Anda. Jangan bersikap terlalu pemurah atau terlalu kikir. Kedua sikap ini berpotensi sebagai pencetus konflik suami-istri.

- Menanyakan pada ahli
ternyata sekarang ahli perncana keuangan keluarga sudah bisa jadi profesi ya hehe... kayak safir senduk tuh bisa diliat di perencanakeuangan.com (yang terakhir ini mah komentar dari saya pribadi aja hehe)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar